Dulu, sebelum punya anak, gue sering banget ngomentarin orangtua lain. "Kok anaknya dibiarin main HP terus?" atau "Kok dibentak gitu sih?" Rasanya gampang banget jadi juri dari luar kandang. Tapi begitu gue sendiri masuk ke dunianya—begadang, ngurusin tangis yang nggak jelas penyebabnya, kerja sambil ngejar deadline—baru deh sadar: ternyata jadi orangtua pemula itu bukan soal niat baik doang. Ada banyak jebakan yang nggak kelihatan, dan gue sempat jatuh ke beberapa di antaranya.
Artikel ini bukan buat nge-judge siapa-siapa. Justru gue nulis ini karena gue pernah jadi pemula yang bingung, yang ngira semua masalah anak itu "salah anaknya". Padahal, setelah direnungin dan banyak ngobrol sama pasangan serta teman yang lebih pengalaman, beberapa kesalahan itu datang dari gue sendiri. Yuk, gue ceritain satu-satu.
Baca juga: Gimana Anak Desa Belajar Empati dari Meja Makan Kami?
1. Mikir Anak Rewel Itu Masalah, Padahal Itu Bahasa Mereka
Kesalahan pertama yang gue lakuin: nganggep rewel sebagai gangguan. Kalau anak nangis atau ngambek, reaksi pertama gue dulu adalah "aduh, gimana cara bikin dia diam?" Bukan "dia lagi butuh apa ya?".
Padahal anak kecil belum bisa bilang "aku capek", "aku lapar", atau "aku butuh dipeluk". Jadi ya mereka pakai satu-satunya alat komunikasi yang mereka punya: tingkah dan suara. Begitu gue mulai menggeser cara pandang—dari "matiin tangisnya" jadi "cari tahu penyebabnya"—hubungan kami berubah banget. Anak jadi lebih tenang karena merasa didengar, dan gue nggak gampang emosi.
Anak yang rewel bukan anak nakal. Dia cuma belum bisa ngomong pakai kata-kata.
2. Ngejar Anak "Pintar" Sampai Lupa Ngajarin Dia Nyaman Sama Dirinya
Ini nih yang sering banget kejadian di kalangan orangtua muda, termasuk gue. Kita sibuk banget nyari stimulasi, les ini-itu, flashcard, aplikasi belajar—pokoknya biar anak nggak "ketinggalan". Tapi di tengah semua itu, gue lupa satu hal sederhana: anak butuh merasa aman dan diterima dulu sebelum bisa belajar apa pun.
Psikolog sering bilang, fondasi perkembangan anak itu rasa aman. Kalau anak merasa nggak nyaman, takut gagal, atau takut dimarahin, otaknya susah fokus buat belajar. Jadi ya, ngejar prestasi tanpa membangun kedekatan emosional itu kayak bangun rumah tanpa pondasi. Runtuh pelan-pelan.
Gue mulai mengurangi jadwal yang terlalu padat. Sekarang, ada waktu khusus buat main bebas tanpa target—nggak harus belajar warna, nggak harus bisa ngitung. Cuma main. Dan ternyata, anak gue justru lebih semangat belajar hal-hal baru karena dia nggak merasa dipaksa.
3. Ngomong Sama Anak Pakai Nada Perintah Terus
Coba deh, inget-inget lagi. Sehari sama anak, berapa banyak kalimat kita yang isinya perintah? "Jangan lari-lari!", "Ayo makan!", "Cepat mandi!", "Jangan main HP lagi!" Kalau dihitung, mungkin 80% komunikasi kita ke anak isinya instruksi.
Gue sadar ini waktu suatu hari anak gue bilang, "Bunda kalau ngomong kok kayak komandan." Nyelekit banget, tapi bener. Anak bukan bawahan. Dia manusia kecil yang juga pengin ngobrol, pengin ditanya pendapatnya, pengin bercanda. Kalau kita cuma ngasih perintah, lama-lama dia bisa merasa nggak dihargai.
Sejak itu, gue coba ubah pola. Nggak selalu berhasil, tapi lumayan. Kadang gue ganti "Cepat mandi!" jadi "Mau mandi pakai air hangat atau biasa?" Anak jadi merasa punya pilihan, dan dia lebih kooperatif. Lucu tapi nyata.
Satu trik kecil yang ngebantu banget
Sebelum ngomong, gue coba tanya diri sendiri dulu: "Kalau gue yang diomongin kayak gini, gue seneng nggak?" Kalau jawabannya nggak, ya gue ubah cara ngomongnya. Sederhana, tapi efeknya besar.
4. Berantem Sama Pasangan di Depan Anak, Terus Ngira Anak Nggak Ngerti
Ini kesalahan yang paling gue sesali. Dulu gue mikir, "Ah, anak masih kecil, nggak ngerti kok." Ternyata salah besar. Anak kecil itu penyerap emosi yang luar biasa tajam. Mereka mungkin nggak paham isi pertengkaran, tapi mereka ngerasain tegangnya suasana.
Ada penelitian yang bilang anak-anak yang sering menyaksikan konflik orangtua bisa mengalami kecemasan, bahkan sampai dewasa. Mereka tumbuh dengan rasa nggak aman, mikir "nanti keluarga gue bubar nggak ya?" Itu beban yang nggak seharusnya mereka bawa.
Gue dan pasangan sekarang punya aturan nggak tertulis: kalau mau bahas hal serius atau lagi emosi, cari waktu dan tempat yang jauh dari anak. Bukan berarti kami nggak pernah bertengkar—namanya juga manusia. Tapi kami berusaha menyelesaikannya tanpa melibatkan anak sebagai penonton.
5. Lupa Bahwa Orangtua Juga Butuh Istirahat
Nah, ini yang paling sering diabaikan pemula, termasuk gue. Kita ngira jadi orangtua itu harus serba bisa, nggak boleh capek, nggak boleh ngambek. Akhirnya kita memaksakan diri terus sampai burnout—dan biasanya yang jadi korban adalah anak, karena kita jadi gampang marah atau malah menarik diri.
Padahal, anak nggak butuh orangtua yang sempurna. Mereka butuh orangtua yang hadir, dan buat hadir, kita juga harus sehat secara mental. Sesekali minta bantuan pasangan, keluarga, atau teman buat jaga anak itu bukan tanda gagal. Itu tanda kita sadar batas diri.
Gue mulai belajar bilang "gue butuh lima menit sendiri" ke pasangan tanpa rasa bersalah. Dan ternyata, setelah recharging, gue jadi orangtua yang jauh lebih sabar. Anak juga ngerasain bedanya.
Apa yang Bisa Kamu Coba Mulai Sekarang
Kalau kamu baru mulai menjalani peran sebagai orangtua, nggak perlu langsung berubah total. Coba mulai dari hal-hal kecil:
- Sebelum bereaksi ke anak, tarik napas dulu dan tanya "dia lagi butuh apa?"
- Kurangi satu jadwal yang bikin anak (dan kamu) stres, ganti dengan waktu main bebas.
- Ganti satu kalimat perintah hari ini dengan kalimat pilihan.
- Simpan urusan serius sama pasangan buat dibahas saat anak nggak ada.
- Jadwalkan waktu buat diri sendiri, sekecil apa pun.
Nggak ada orangtua yang sempurna, dan itu nggak apa-apa. Yang penting kita mau belajar dan memperbaiki diri. Anak-anak kita nggak butuh superhero—mereka cuma butuh orang dewasa yang mau terus berusaha jadi lebih baik, sedikit demi sedikit, setiap hari.