Selasa, 20 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
baoyangzhuanjia.combaoyangzhuanjia.com
baoyangzhuanjia.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Bunda, Peluk Aku Dulu": Saat Anak Minta Perhatian,...

Bunda, Peluk Aku Dulu": Saat Anak Minta Perhatian, Bukan Barang

Cerita soal anak yang lebih butuh pelukan daripada mainan mahal, dan kenapa ibu rumah tangga perlu berhenti merasa bersalah soal itu.

Bunda, Peluk Aku Dulu": Saat Anak Minta Perhatian, Bukan Barang

Beberapa minggu lalu, anakku yang usia lima tahun menarik ujung kaosku saat aku sedang sibuk di dapur. Aku kira dia mau minta susu atau minta diputarkan video. Ternyata dia cuma bilang, "Bunda, peluk aku dulu, ya."

Gue sempat kaget. Bukan karena permintaannya aneh, tapi karena aku sadar belakangan ini dia lebih sering minta mainan daripada minta dipeluk. Dan aku langsung merasa bersalah. Padahal seharian aku di rumah, tapi kok rasanya kehadiranku nggak benar-benar "hadir" buat dia.

Malam itu aku duduk lama di kamar, mikirin hal ini. Dan kayaknya cerita ini bukan cuma soal aku. Banyak ibu rumah tangga di luar sana yang mungkin ngalamin hal serupa tapi nggak pernah cerita karena takut dianggap lebay atau nggak bersyukur.

Ketika "Ada di Rumah" Bukan Berarti "Hadir"

Ini yang paling sering bikin gue galau. Secara fisik, aku ada di rumah hampir 24 jam. Aku yang masak, yang nyuci, yang antar-jemput, yang nidurin. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, berapa banyak waktu di hari itu aku benar-benar duduk, natap matanya, dan dengerin dia ngomong tanpa sambil pegang HP atau mikirin cucian?

Sedikit. Sedihnya, sedikit banget.

Anak itu nggak bodoh. Mereka bisa ngerasain bedanya kita ada di dekat mereka tapi pikiran kita ke mana-mana, sama kita benar-benar hadir. Dan yang lebih bikin nyesek, mereka nggak selalu bisa bilang dengan kata-kata. Jadi mereka minta perhatian dengan cara lain: rewel, ngeyel, atau minta dibeliin sesuatu. Padahal yang mereka pengen sebenarnya sederhana.

"Anak yang minta dibelikan mainan belum tentu manja. Kadang dia cuma belum tahu cara bilang 'aku kangen Bunda'."

Sejak sadar hal ini, gue coba ubah beberapa kebiasaan kecil. Nggak revolusioner, nggak pakai teori parenting rumit. Cuma hal-hal sepele yang ternyata efeknya kerasa.

Hal-Hal Kecil yang Gue Coba di Rumah

Pertama, gue bikin aturan buat diri sendiri: 15 menit tanpa HP setiap kali anak pulang sekolah atau bangun tidur. Nggak lama, kok. Tapi 15 menit itu gue pakai buat duduk di lantai, dengerin ceritanya soal teman yang berebut pensil atau kucing tetangga yang naik pohon. Kadang ceritanya nggak jelas, tapi dia seneng banget diceritain.

Kedua, gue mulai nanya pertanyaan yang lebih spesifik. Dulu gue cuma nanya, "Hari ini gimana?" dan jawabannya selalu "Biasa aja." Sekarang gue nanya, "Tadi di sekolah kamu ketawa paling kencang gara-gara apa?" atau "Ada nggak yang bikin kamu kesel hari ini?" Hasilnya jauh lebih hidup. Anak jadi lebih terbuka karena pertanyaannya nggak generik.

Ketiga, dan ini yang paling berat buat gue: berhenti multitasking saat dia lagi cerita. Dulu gue bisa sambil lipat baju, sambil dengerin. Sekarang gue coba taruh baju lipatannya dulu, tatap matanya, dan dengerin sampai selesai. Kadang cuma dua menit, tapi dia kelihatan jauh lebih puas.

Soal Rasa Bersalah yang Nggak Ada Habisnya

Gue mau jujur. Kadang gue masih merasa bersalah. Terutama kalau lihat ibu-ibu lain di media sosial yang kelihatan bisa ngatur waktu dengan sempurna, bikin sensory play, sambil tetap punya karier. Rasanya kayak gue selalu kurang.

Tapi pelan-pelan gue sadar, membandingkan diri sama highlight reel orang lain itu nggak ada ujungnya. Anak gue nggak butuh ibu yang sempurna. Dia butuh ibu yang mau duduk di sampingnya dan bilang, "Ceritain lagi, Bun dengerin."

Dan rasa bersalah itu, kalau dipakai dengan benar, sebenarnya bisa jadi alarm. Bukan buat nyalahin diri terus-terusan, tapi buat ngingetin bahwa ada yang perlu dirapikan. Misalnya, minggu ini gue terlalu banyak pegang HP, ya udah, minggu depan dibenerin. Sesederhana itu.

Kenapa Hubungan Keluarga Dimulai dari Hal-Hal Kecil

Gue sering baca artikel soal bonding keluarga yang isinya kegiatan besar: liburan bareng, family gathering, quality time akhir pekan. Semua itu bagus. Tapi buat gue, hubungan keluarga itu lebih sering dibangun dari momen-momen kecil yang nggak direncanakan.

  • Pelukan pagi sebelum anak berangkat sekolah.
  • Makan malam bareng tanpa TV nyala.
  • Dengerin cerita anak yang kadang nggak masuk akal, tanpa langsung mengoreksi.
  • Bilang "makasih ya udah bantu Bunda" walau bantuannya cuma mindahin sendal.

Hal-hal ini kelihatan sepele. Tapi kalau dilakukan terus-menerus, anak jadi tahu bahwa dia penting. Bahwa kehadirannya di rumah ini dihargai. Dan itu pondasi yang jauh lebih kuat daripada mainan mahal atau liburan mewah.

Gue juga belajar buat nggak terlalu keras sama diri sendiri. Ada hari-hari di mana gue gagal total: HP nggak lepas dari tangan, anak nonton video terus, dan gue cuma bisa pasrah. Tapi besok masih ada kesempatan buat mulai lagi. Nggak perlu nunggu momen sempurna atau tanggal cantik buat berubah.

Buat Kamu yang Mungkin Sedang di Posisi yang Sama

Kalau kamu ibu rumah tangga yang lagi baca ini dan tiba-tiba ngerasa "kok ini kayak ceritaku ya", kamu nggak sendirian. Kita semua pernah di titik di mana fisik ada di rumah tapi hati lagi sibuk mikirin hal lain. Itu manusiawi.

Yang penting, kita sadar. Dan begitu sadar, kita bisa pilih buat berhenti sebentar, taruh HP, dan dengerin anak yang mungkin sedang menunggu giliran bicara sejak tadi. Nggak perlu lama. Kadang cukup lima menit. Tapi buat anak, lima menit itu bisa berarti seharian.

Anakku sekarang masih suka minta dipeluk tiba-tiba. Dan setiap kali dia minta, gue coba untuk nggak bilang "nanti dulu ya, Bunda sibuk." Karena gue tahu, suatu hari nanti dia mungkin nggak akan minta lagi. Dan gue nggak mau menyesal karena terlalu sering bilang "nanti".

Tags: pengasuhan anak hubungan keluarga ibu rumah tangga quality time kedekatan emosional

Baca juga: Aku Baru Sadar Pola Pengasuhan Ala Kadangku Bikin Bisnis Kacau