Ada satu hal yang bikin gue agak geli tiap kali ngobrol sama temen-temen yang baru pindah kos atau kontrakan. Mereka rajin banget video call sama orangtua. Setiap hari. Kadang dua kali sehari. Story WhatsApp penuh sama screenshot chat keluarga. Di mata mereka, itu bukti kalau hubungan keluarga mereka sehat. Dan mungkin memang iya.
Tapi ada yang aneh. Orang yang paling rajin telepon ibunya justru sering jadi orang yang paling kaget waktu harus ngurus adiknya yang sakit, atau paling panik waktu keponakannya nangis di depan mata. Kok bisa?
Baca juga: Kerja Sampai Malam, Anak Nanya: "Bunda, Kita Masih Keluarga Nggak?
Nah, di situ letak hal yang jarang dibahas. Kita terlalu sibuk mengukur kedekatan keluarga dari frekuensi komunikasi, padahal yang bikin kamu siap jadi orang dewasa — dan nanti jadi orangtua — bukan itu.
Rajin Chat Itu Gampang, yang Susah Itu Ini
Gue pernah tinggal bareng sepupu gue selama tiga bulan. Dia tipe yang tiap malam pasti telepon mamanya. Cerita semua hal. Dari menu makan siang sampai drama kantor. Kedengerannya manis banget, kan?
Baca Juga: 10000-mail-order-brides.com
Tapi suatu sore, tetangga kos kami kecelakaan kecil. Anaknya, masih SD, nangis kejer di depan pintu karena panik. Sepupu gue bengong. Nggak tahu harus ngapain. Akhirnya gue yang turun tangan, nenangin anaknya, telepon yang punya kos, urus semuanya.
Sepupu gue bukan orang jahat. Dia cuma belum pernah dilatih menghadapi situasi yang nggak bisa diselesaikan lewat chat. Selama ini, semua masalah emosional dia "selesaikan" dengan lapor ke mama. Dan mama selalu ada di ujung telepon.
Masalahnya, jadi orangtua nanti nggak bisa lewat telepon. Anak kamu nangis jam 2 pagi, kamu yang harus hadir. Bukan mama kamu.
Tiga Jebakan yang Nunggu Anak Muda yang Baru Mandiri
Ini bukan soal kamu salah atau benar. Ini soal hal-hal yang nggak pernah diajarin waktu kita masih di rumah.
1. Kamu terbiasa jadi "anak", bukan "orang yang mengurus"
Selama di rumah, peran kamu jelas: anak. Yang diurus, yang dilayani, yang dilindungi. Begitu pindah kos, peran itu hilang, tapi kamu belum punya peran baru. Jadi kamu isi kekosongan itu dengan tetap jadi anak versi jarak jauh — telepon tiap hari, minta pendapat mama soal apa pun, dari mau beli kulkas sampai mau resign.
Ini nyaman. Tapi bahaya, karena kamu nggak pernah belajar jadi orang yang mengurus. Padahal jadi orangtua itu 90 persen mengurus orang lain, bukan minta diurus.
2. Kedekatan yang kamu banggakan itu sering cuma soal laporan
Coba inget lagi, chat kamu sama orangtua isinya apa? Kalau mayoritas isinya laporan — "udah makan", "udah sampai", "aman" — itu bukan kedekatan. Itu prosedur keamanan.
Kedekatan yang beneran itu waktu kamu bisa duduk diam bareng keluarga tanpa harus ada yang diomongin, atau waktu kamu bisa marah sama mereka tanpa takut hubungan putus. Yang kedua ini jarang banget terjadi di keluarga Indonesia. Kita diajarin buat nggak berantem sama orangtua, jadi konflik selalu disimpan. Dan konflik yang disimpan itu nanti meledak waktu kamu punya anak sendiri.
3. Kamu belum pernah lihat orangtuamu sebagai manusia biasa
Ini yang paling jarang dibahas. Sampai kamu hidup mandiri, biasanya kamu cuma kenal orangtuamu dalam satu peran: orangtua. Kamu nggak tahu mereka capek, salah, bingung, atau nggak tahu harus ngapain.
Begitu kamu tahu — misalnya waktu kamu lihat mama kamu panik ngurusin utang, atau bapak kamu nggak bisa jawab pertanyaan sederhana — ada dua kemungkinan. Kamu bisa kecewa dan menjauh, atau kamu bisa mulai melihat mereka sebagai manusia yang juga belajar sambil jalan.
Yang kedua itu penting banget buat kamu nanti. Karena waktu kamu jadi orangtua, kamu juga bakal bingung dan salah. Kalau kamu nggak pernah belajar memaafkan kebingungan orang lain, kamu bakal jadi orangtua yang keras sama diri sendiri. Dan itu nular ke anak.
Yang Bisa Kamu Mulai Sekarang, Tanpa Harus Punya Anak Dulu
Nggak perlu nunggu punya anak buat latihan. Ada beberapa hal kecil yang bisa kamu coba mulai minggu ini.
- Minta orangtuamu cerita soal masa mudanya. Bukan cerita versi "dulu kami susah". Tapi cerita yang bikin mereka kelihatan manusia — misalnya gagal, malu, atau nggak tahu harus ngapain. Ini ngelatih kamu melihat orang lain sebagai pribadi, bukan cuma peran.
- Urus sesuatu sendiri tanpa lapor dulu. Bukan berarti bohong. Tapi coba selesaikan satu masalah kecil — urusan kos, kesehatan, atau uang — tanpa minta pendapat orangtua. Rasain gimana rasanya jadi orang yang mengambil keputusan.
- Latih sabar sama orang yang lebih lemah dari kamu. Adik, keponakan, temen yang lagi down. Bukan cuma nenangin lewat chat, tapi hadir beneran. Duduk di sampingnya. Ini latihan paling murah buat jadi orangtua nanti.
- Bicarakan satu konflik lama sama keluargamu. Nggak perlu yang besar. Yang kecil aja. Ini ngelatih kamu ngomong jujur tanpa harus berantem.
Gue sendiri baru sadar soal ini waktu ngobrol sama temen yang udah punya anak. Dia bilang, "Gue dulu kira gue bakal jadi bapak yang gampang karena gue deket sama bokap gue. Ternyata yang gue pelajarin cuma cara ngobrol, bukan cara ngurus."
Kedekatan sama keluarga itu modal bagus. Tapi modal bukan alat. Kamu tetap harus belajar pakai alatnya sendiri.
Jadi kalau kamu sekarang rajin banget video call sama orangtua, bagus. Jangan berhenti. Tapi jangan berhenti di situ juga. Karena yang bakal bikin kamu siap jadi orang dewasa — dan nanti jadi orangtua — bukan seberapa sering kamu lapor, tapi seberapa berani kamu hadir waktu nggak ada yang bisa di-chat.
Dan satu lagi: nggak apa-apa kok kalau kamu masih bingung. Semua orang juga bingung di awal. Yang beda cuma ada yang mau belajar, ada yang nunggu sampai kepepet.