Ada satu kebiasaan yang dulu sering gue lakuin tanpa sadar: bilang "nanti dulu ya, Nak" ke anak. Entah karena lagi buka laptop, lagi masak, atau sekadar capek sepulang kerja. Kalimatnya pendek, terdengar sopan, dan kayaknya nggak masalah. Tapi ternyata, kalimat-kalimat kecil kayak gitu yang sering jadi awal retak hubungan kita sama anak.
Gue tinggal di Jakarta, punya satu anak yang masih SD, dan kayak keluarga kecil lain di kota besar, hidup kami serba cepat. Pagi buru-buru berangkat, siang kerja, sore macet, malam sudah lelah. Di tengah ritme kayak gini, kesalahan-kesalahan dalam mengasuh anak sering nggak kelihatan karena semuanya terasa "wajar". Padahal, justru yang wajar inilah yang perlu kita periksa ulang.
"Nanti Dulu" yang Jadi Kebiasaan
Ini kesalahan nomor satu yang paling sering gue temuin, baik di diri sendiri maupun di teman-teman sesama orangtua muda. Anak datang bawa cerita, bawa gambar, bawa pertanyaan random — dan kita jawab dengan "nanti dulu". Sekali dua kali nggak apa-apa. Masalahnya, kalau ini jadi pola, anak belajar bahwa ceritanya nggak penting buat kita.
Baca juga: Aku Kira Anakku Rewel, Ternyata Aku yang Salah Pola Asuh
Yang bikin sedih, anak nggak langsung protes. Mereka cuma pelan-pelan berhenti cerita. Dan baru kita sadar setahun kemudian, waktu anak sudah asyik sama gadget-nya sendiri dan nggak lagi datang ke kita buat sekadar cerita soal teman sekolahnya.
Anak nggak butuh kita selalu punya waktu panjang. Mereka cuma butuh tahu bahwa waktu yang kita kasih itu benar-benar buat mereka.
Cara menghindarinya sederhana, meski nggak gampang: kalau memang lagi nggak bisa, bilang dengan jujur dan kasih waktu yang jelas. "Papa lagi kerja, 15 menit lagi ya, terus kita dengerin bareng." Anak bisa memahami itu. Yang bikin mereka kecewa bukan penundaannya, tapi janji yang nggak pernah ditepati.
Menyamakan "Disiplin" dengan "Mengatur"
Kesalahan kedua yang sering banget terjadi di keluarga urban: kita terlalu sibuk mengatur anak, sampai lupa mendengarkan mereka. Jam belajar, jam tidur, jam main, jadwal les, semua diatur rapi. Niatnya biar anak disiplin dan nggak ketinggalan. Tapi tanpa sadar, kita jadi orang yang selalu menginstruksikan, bukan orang yang diajak ngobrol.
Gue pernah diingatkan sama satu kejadian kecil. Waktu itu anak gue nggak mau ikut les renang, padahal jadwalnya sudah dibayar. Gue langsung kesel, mikirnya dia cuma malas. Setelah didesak, dia akhirnya bilang: "Aku takut sama pelatihnya, dia suka teriak." Dari situ gue sadar, selama ini gue sibuk memastikan dia datang ke les, tapi nggak pernah nanya gimana perasaannya di sana.
Anak yang terlalu sering diatur tanpa didengar bisa tumbuh jadi dua tipe: yang menurut terus tapi nggak punya pendirian, atau yang melawan terus karena merasa nggak pernah dianggap. Dua-duanya sama-sama nggak sehat.
Coba mulai dari pertanyaan kecil
Nggak perlu langsung jadi orangtua yang super mendengarkan. Mulai dari hal kecil aja. Sebelum menyuruh, coba tanya dulu: "Menurut kamu gimana?" atau "Kamu mau cerita nggak kenapa nggak mau?" Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini ngasih sinyal ke anak bahwa pendapatnya dihitung. Dan buat kita, ini jadi latihan buat nggak langsung nyimpulin sebelum tahu duduk perkaranya.
Hadir Secara Fisik, Tapi Nggak Hadir Beneran
Ini yang paling halus dan paling sering lolos dari kesadaran. Kita sudah di rumah, sudah di samping anak, tapi tangan sibuk pegang HP dan mata masih nyisa ke layar. Anak ngomong sesuatu, kita jawab "iya, iya" tanpa benar-benar dengar apa yang dia bilang.
Gue pernah kena tegur anak sendiri. Waktu itu dia lagi cerita panjang soal proyek sekolahnya, dan gue sambil main HP jawab seadanya. Tiba-tiba dia berhenti, terus bilang: "Papa dengerin nggak sih?" Sakit juga dengernya. Tapi itu jadi tamparan yang bagus buat gue.
Anak itu nggak bodoh. Mereka tahu bedanya orang yang benar-benar hadir dan orang yang cuma ada di ruangan yang sama. Kehadiran fisik tanpa perhatian justru bisa lebih menyakitkan daripada nggak hadir sekalian, karena anak merasa diabaikan padahal kita ada di depan matanya.
Solusinya bukan berarti harus lepas HP seharian. Cukup bikin aturan sederhana di rumah: waktu ngobrol sama anak, HP ditaruh menghadap ke bawah atau ditinggal di kamar. Setengah jam fokus penuh itu jauh lebih berharga daripada dua jam bareng tapi setengah hatinya di tempat lain.
Lupa Bahwa Kita Juga Sedang Belajar
Kesalahan yang sering nggak disadari orangtua muda: kita merasa harus selalu benar. Kalau anak salah, kita tegur. Tapi kalau kita yang salah — marah berlebihan, salah paham, janji yang nggak ditepati — kita sering diam aja, pura-pura nggak terjadi.
Padahal, anak belajar banyak dari cara kita memperbaiki kesalahan, bukan dari seberapa sempurna kita. Kalau kita bisa bilang "Maaf ya, tadi Papa terlalu keras," anak juga belajar bahwa minta maaf itu bukan hal memalukan. Sebaliknya, kalau kita nggak pernah mengakui salah, anak tumbuh dengan keyakinan bahwa orang yang lebih tua selalu benar — dan itu nggak sehat buat hubungan mereka kelak.
Gue sendiri masih sering keliru soal ini. Masih suka gengsi duluan buat minta maaf ke anak. Tapi pelan-pelan gue latih, karena gue pengen anak gue tumbuh dengan contoh bahwa hubungan keluarga itu soal saling memperbaiki, bukan soal siapa yang paling benar.
Yang Perlu Diingat
Nggak ada orangtua yang sempurna, dan itu bukan alasan buat berhenti berusaha. Kesalahan-kesalahan kecil kayak "nanti dulu", terlalu sibuk mengatur, hadir tapi nggak beneran hadir, atau gengsi minta maaf — semuanya bisa diperbaiki asal kita mau sadar dan mulai dari langkah kecil.
Anak nggak butuh orangtua yang selalu benar. Mereka butuh orangtua yang mau terus belajar bareng mereka. Dan buat keluarga kecil di kota besar yang hidupnya serba cepat kayak kita, kesadaran kecil ini bisa jadi penyelamat hubungan yang paling berharga di rumah.
Jadi, malam ini, coba deh taruh HP sebentar, duduk di samping anak, dan tanya satu pertanyaan sederhana: "Hari ini ada cerita seru nggak?" Terus dengerin sampai selesai. Nggak usah buru-buru bilang "nanti dulu".